Sore di taman, tempat yang indah, sore yang indah, aku memutuskan untuk duduk sejenak ditengah perjalananku yang masih panjang. Kulihat ada ibu yang membawa anak balitanya menikmati sore, ada nenek yang sedang tersenyum menikmati sentuhan cahaya sore di kulitnya, sepasang sejoli yang sedang bercanda dengan seekor anjing kecil, dan kulihat seorang gadis yang terdiam, tidak terlihat senang, merenung.. duduk sendiri di kursi yang disediakan untuk tiga orang.. jauh di ujung taman.
Gadis ini layaknya seperti sebuah mutiara, yang keindahan cahayanya tertutup oleh rindangnya pohon. Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada gadis ini, atau mungkin hanya belum mengerti. Dia tidak terlihat sedang kehilangan sesuatu, tidak terlihat seperti sedang kehilangan orang yang ia cintai pula. Sore ini masih sangat panjang, aku memutuskan berjalan, ke kursi ujung taman, tepat dibawah pohon, dan tepat disampingnya aku duduk. Dia menoleh ke arahku sejenak, mungkin bingung dengan apa yang kulakukan disampingnya.
Aku diam untuk sejenak, sambil mencari titik-titik kecil sinar matahari yang tertutup oleh rindangnya pohon, aku melihat ke atas pohon yang tertanam tepat di belakang kursi tempat kami duduk.. dan akhirnya kudengar gadis ini mengela panjang nafasnya..
Akupun bertanya, “Kamu butuh sesuatu?”
Ia menjawab, “Aku lupa rasanya bahagia”
Dan aku membalas, “Kamu hanya lupa untuk membandingnya berapa banyak kebahagiaan yang kau punya, dan berapa banyak masalah yang kamu sedang hadapi”
Lalu ia menoleh dengan muka setengah kebingungan..
Lalu aku meminta izin untuk memegang tanganya, ia mengangguk, dan aku ajak ia berdiri.
“Ayo kita cari kebahagiaan, aku janji, ga akan jauh dari sini” kataku.
Ia berdiri, menunduk, dan ikut berjalan.
Aku masih menggenggam tanganya.. setelah tidak jauh kaki-kaki kami melangkah, aku bertanya,
“Apakah sudah terasa kebahagiaanya?”
Ia berkata, “Belum, kamu?”
Aku menjawab, “Aku selalu merasakanya, bahkan dari detik pertama aku menyapa”
Ia hanya terdiam, dan kami terus berjalan, sore ini sangat nyaman bagiku, dan belum terasa nyamanya untuk gadis ini. Sore ini masih sangat jauh dari senja, birunya langit memberikan tanda padaku bahwa aku tidak boleh pulang hingga gadis ini menemukan kebahagiaanya.
Lalu kamipun sampai ditengah taman, tepat didepan air mancur, kami duduk sebentar di pinggir air mancur.
Aku kembali bertanya, “Apakah kamu sudah merasakanya sekarang?”
“Entahlah, sepertinya belum, atau mungkin sepertinya aku lupa bagaimana cara mendapatkanya” Jawabnya.
Aku hanya tersenyum, tanpa tau apa yang sedang ia alami.
Lalu aku kembali berdiri dan menggenggam tangan kecilnya, aku ajak dia untuk lanjut berjalan di taman.
Kami berjalan, diatas jalur aspal yang sangat terasa hangatnya karena sinar matahari..
Kami terus berjalan..
Lalu aku mengajaknya duduk, tepat disamping nenek yang sedang memejamkan matanya sambil tersenyum merasakan matahari sore.
Dan aku memberikan bisikan kecil, “Kamu lihat nenek itu? Kamu merasakanya sekarang?”
Lalu gadis ini mengencangkan peganganya pada tanganku sambil bertanya, “Apakah nenek ini baik baik saja?”
Aku tersenyum, “Dia lebih baik dari sekedar baik baik saja”
Lalu aku mengajaknya berdiri lagi dan kamipun lanjut berjalan..
Lalu kami berjalan disamping seorang ibu yang sedang membawa anak balitanya yang amat menggemaskan, berjalan sore dengan kereta dorong.. Setelah lama kita berjalan disamping kereta dorong itu, aku tersenyum sambil menatap anak laki-laki yang sedang menikmati cahaya matahari sore di dalam kereta dorongnya, anak itu terlihat sangat gembira. sama sepertiku, sepertinya waktu sore merupakan waktu favoritnya.
Lalu untuk pertama kalinya, aku melihat gadis ini tersenyum,
Dan aku pun tersenyum dan bertanya, “Hei, kamu merasakanya?”
Ia membalas, “Anak ini lucu sekali, sepertinya ia sangat bahagia”
Dan aku tersenyum dan berhenti berjalan.
Lalu kami duduk, tepat bersebrangan dengan kursi yang sedang diduduki pasangan pria wanita yang sedang bercanda dengan anjingnya.
Kami berdua menatap pasangan tersebut,
Lalu aku berkata, “Ada yang ingin kau bilang?”
Lalu ia menghela nafasnya dan berkata, “Aku iri dengan kebahagiaan yang mereka punya..”
Aku tak menjawab, aku segera menggengam kembali tanganya dan berdiri.
Setelah ia berdiri, kami lanjut berjalan, dan akhirnya aku berhenti, tepat didepan kursi tempat pertama kami bertemu.
Aku bertanya, “Apakah kamu bahagia?”
Ia membalas, “Aku tidak tahu, sepertinya aku bahagia, tapi tidak.. atau sepertinya tidak bahagia, tapi aku bahagia.. aku tidak tahu pasti”
Lalu aku mengambil kamera instan berukuran mini yang ada di kantongku dan berkata, “Boleh aku foto kamu?”
Ia mengangguk, lalu duduk tepat di tempat pertama aku melihatnya ditaman ini. Ia memberikan senyum kecilnya untuk kameraku, lalu kamera instanku mengeluarkan hasilnya, dan aku mengantongi hasil fotonya di saku kemeja biru mudaku, lalu aku kembali duduk disampingnya.
Aku berkata, “Semestinya kamu jadi wanita yang paling berbahagia di dunia ini”
Gadis ini menoleh ke arahku, dan aku lanjut bertutur “Kamu punya senyum terbaik yang pernah aku lihat semenjak menit kedua hidupku, maaf, senyum menit pertama diberikan oleh ibuku. Tapi sayang, aku cuma dapat senyum kecil” Sambil aku tersenyum
Ia pun ikut tersenyum, Ia berkata, “Terima kasih”
Lalu ia berkata, “Aku tidak tau namamu, siapa namamu?”
Aku tidak menjawab, karena akupun bingung, sebenarnya aku ingin berkenalan, atau ingin membuat gadis ini ingat akan rasanya bahagia.
Lalu aku berkata, “Coba buka matamu lebih lebar, lihat apa yang tejadi di taman ini secara keseluruhan, dengan cara yang berbeda”
Ia melanjutkan, “Lalu, apa yang harus aku lakukan?”
Aku pun membuka mataku lebih lebar, melakukan apa yang aku suruh lakukan kepada gadis ini dan aku berkata, “Apakah kamu mau tahu apa yang aku rasakan?”
Ia jawab, “Ya.. apa?”
Kujawab, “Aku merasa sangat beruntung, tuhan memberikan sore ini, aku bisa merasakan indahnya matahari, bisa melihat nenek yang sedang mensyukuri hidupnya, melihat ibu yang menikmati hidupnya, bahkan anak balitapun merasakanya, terlalu banyak keindahan disore ini, dan akan terlalu banyak ucapan terima kasih yang akan kusampaikan kepada tuhan. Kesempatan ini, aku yakin, hanya akan terjadi satu kali, kita tidak akan merasakan hal sama persis dengan apa yang baru saja kita lewati. aku bersyukur pula dapat bertemu denganmu, aku senang, aku tahu tuhan menakdirkan kamu untuk duduk di kursi ini, di sore ini, bukan hanya untuk duduk termenung, aku tahu bahwa tuhan ingin aku memberikan kebahagiaan yang aku rasakan, dan tuhan ingin kamu ingat lagi apa rasanya bahagia. oleh karena itu kita dipertemukan di kursi ini sekarang.
Aku percaya, apapun yang terjadi pada hidupku, pasti ada artinya. siapapun yang aku temui di hidupku, pasti membawa maksud yang dititipkan tuhan. tuhan menolong kita tanpa berbicara, dengan cara yang kita belum tentu sadari. jadi aku hanya meminta, tanpa menunggu iya mengatakan jawabanya. aku hanya jalani hari sambil menunggu jawaban tersembunyi di balik apa yang terjadi di sekitarku sendiri.
Kamu gadis yang cantik, aku tahu kamu gadis yang baik, tuhan akan memberikan yang terbaik pada ciptaanya yang baik. tuhan akan melindungi ciptaanya yang baik dengan orang orang disekitarnya yang baik pula, dengan cara terbaik yang ia punya”
Aku merasakan tatapan dan senyuman gadis ini sepanjang aku berpidato singkat,
Dan ia berkata, “Aku merasa bahagia”
Aku tersenyum, ia pun tersenyum.
Lalu aku meminta izin untuk mengabil fotonya sekali lagi, kali ini ia tersenyum lebar sekali, aku merasa seperti orang yang paling bahagia di bumi ini, dan aku rasa ia merasakan hal yang sama. Dan kamera instanku kembali memberikan hasilnya, aku masukan hasilnya kedalam kantong kemejaku, dan aku mengeluarkan foto pertama gadis yang masih tersenyum kecil.
Lalu aku berkata, “Aku ingin kamu menyimpan foto senyum kecilmu ini, dan aku ingin kamu membawanya kemanapun kamu pergi, aku ingin foto ini menjadi pengingat agar jika kamu merasa jauh dari bahagia, kamu akan ingat bagaimana cara untuk kembali berjalan ke arah bahagia.”
Ia tersenyum dan mengucap, “Terima kasih, aku tidak akan melupakan sore ini” Dan setelah itu, sebuah sentuhan dari bibir kecil berwarna merah muda mendarat di pipi kanan ku.
Aku tersenyum, berkata, “Terima kasih, aku juga tidak akan melupakan sore ini”
Lalu aku berjalan lagi, melanjutkan perjalanan panjangku yang tak ber arah, dan ia pun berjalan, mungkin kembali ke rumahnya, aku pun tidak tahu. sore ini indah, terima kasih tuhan.