5/06/2012

グッドバイ

Sang surya datang seakan memacumu untuk berlari,
Lama kutunggu sampai akhirnya kulihat kau terikat tali

Tali yang kupikir selama ini gunanya untuk menghiasi,
Ternyata terus menarik dan kau hanya mencoba menikmati

Sayang.. aku hanya bisa menemani,
Sayang.. aku terlalu cepat pergi

Sudah saatnya tawa kita terhenti,
Sudah waktunya aku berpisah dengan pagi

Ingatanku saat kita sudah siapkan semuanya hingga begitu rapih, tapi kau tetap enggan untuk pergi
Walau tak terucap, tapi aku tak akan lagi mempunyai nyali
Jadi ini, bait akhir dari burung yang bernyanyi, gemulainya semesta yang menari
Aku harus pergi, kau tau aku tak akan selamanya seperti ini.

4/03/2012

Sini, Duduk Deket Aku

Emang iya, pasti sulit biar orang lain ngertiin apa yang kita mau, yang kita rasain. Tapi, sebelum itu, lebih baik kita yang ngertiin apa yang orang lain ingin rasain, yang orang lain mau. Biasanya kalo orang lain ngerti kalo kita ngertiin mereka tentang apa yang mereka rasain, orang itu akan berusaha mengerti juga apa yang kita mau dari apa yang kita ngertiin dari apa yang dia mau. Jangan gitu melulu dong mikirnya, kan ga semua orang kan kaya gitu. Biasanya orang yang berpikiran baik bakal selalu dikelilingi orang yang berpikirian baik juga, atau seenggaknya orang yang berpikiran baik akan selalu ngebawa sekelilingnya untuk berpikiran baik juga.


Pikiran baik biasanya muncul di waktu yang baik, di tempat yang baik, di suasana yang baik pula, kenapa? because people don't tend to spoil a good moment, sanubari atau lubuk hati terdalam manusia biasanya punya kecenderungan untuk tidak merusak bahkan menjaga momen yang baik. Kita punya hak penuh untuk memilih siapa saja orang yang berada di sekitar kita, oleh karena itu, usahain kita dikelilingin orang-orang berpikiran baik. Dan orang-orang yang berpikiran baik, adalah salah satu alasan terciptanya semua momen baik yang ada.


Berbicara tentang hasilnya, ada senang, ada bahagia. Stop there. menurutku ada perbedaan yang sulit dijelaskan antara senang dan bahagia, sulit memang untuk mencari definisi pasti tentang apa yang kita rasakan didalam diri kita, apalagi kalo udah menyangkut hati, bukan fisik. senang, bahagia, cinta, to feel good, to feel right, itu semua berbeda, itu seperti rahasia, kita semua pasti punya, walau entah ada berapa, dan semuanya pasti berbeda. Aku bahagia, kamu bahagia, terlihat sama, terdengar sekata, tapi pasti terasa berbeda, walau takbisa dijelaskan secara makna.


Aku orang yang lebih menyukai membayangkan sifat diriku sendiri sebelum orang lain menilai, berfikir sebelum kita berbuat sesuatu seperti 'kalo orang lain berbuat gini sama aku, apa reaksiku? gimana perasaanku?' bukanya narsis, bukan juga jaga image, tapi lebih efektif aja kalo kita yang menilai diri sendiri terlebih dahulu sebelum orang lain menilai diri kita, lebih enak aja kalo kita yang mulai dari diri sendiri. Dimana-mana aku denger kata-kata 'tak perduli apa kata orang, bla bla' atau 'biarin orang mau bilang apa, yang penting bla bla', tapi kita harus sangat berhati-hati mengartikan dua kalimat tersebut. Manusia punya kecenderungan untuk bersosialisasi dengan orang lain, tak akan pernah mungkin kita tidak peduli dengan apa yang orang lain bilang, ga mungkin, percaya deh. Dua kalimat tersebut mungkin ada secara spontan, mungkin karena emosi sesaat, mungkin juga.. ya.. pencitraan aja. Saat emosi, orang bisa bilang apa aja, makanya orang banyak bilang jangan membuat keputusan penting saat kita emosi. Saat kita emosi, kita pengen dibilang A, pengen dibilang B, pengen dibilang C. Mereka emosi, mereka bilang 'tak perduli apa kata orang', tetapi itu ia tujukan kepada orang lain, orang lain tau, orang lain mendengar, orang lain heran, orang lain peduli, pada akhirnya hubungan sosial yang bersifat manusiawi terjadi, dan seterusnya.


Intinya selalu hargain orang lain, perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Inget, kalo segala hal yang dilakukan orang lain, baik atau buruk, itu punya cerita dibelakangnya, orang lain pernah bahagia juga, pernah sedih juga, orang lain mungkin udah pernah ngelewatin hal yang belum pernah kita lewatin, emosi itu manusiawi, tapi se emosi apapun kita, jangan sampe pernah menyakiti perasaan orang lain. Dan inget, belum bisa dikatakan sebagai sebuah kebahagiaan, kalau disekitar kebahagiaan itu masih terdapat hati yang tersakiti. Maaf ya aku ngomong melulu.

4/02/2012

Lima Indera

Kujalani hidupku semaksimal mungkin, sebisa mungkin yang kubisa untuk tetap hidup. Sama sekali bukan karena aku takut untuk merasa tidak hidup lagi, tapi aku jatuh cinta dengan hidup ini, terlalu dalam aku jatuh cinta. Momen hidup ini terlalu indah untuk dilewatkan, oleh karena itu, kita dibekali lima indera sebagai bekal untuk kita menjalani hidup, dan semua indera memberikan candunya dengan cara yang berbeda..

Yang pertama, Mata, aku memperluas pandangan, tanpa ada penghalang, berusaha melihat apa yang belum pernah kulihat, dan tak lupa rutin melihat satu hal terbaik yang pernah kulihat, sungguh tak pernah jemu aku melihat. Pemandangan, senyuman, cahaya, warna. Walau ada satu konsekuensi yang harus dihadapi.. memang, semakin banyak kita melihat, semakin bahagia kita bisa dibuat, itu memang bisa terjadi, tapi bisa juga terjadi sebaliknya. Semakin banyak kita melihat, semakin banyak kita berfikir dan ragu dibuat, but we'll get into that later.

Yang kedua, Hidung, indera yang didalamnya terdapat banyak sel untuk kita mengenali segala aroma, indera yang punya hubungan khusus dengan berbagai indera lain, saat aku melihat bunga yang cantik, aku selalu penasaran untuk menghirup aromanya, jika aku memasak atau membuat kue, belum lengkap rasanya didalam diri tanpa ku menghirup aromanya. Hidung juga membuat kita bahagia, lihat betapa bahagianya saat anak-anak sedang menunggu ibunya yang sedang memasak makan siang mereka, dan mereka mulai mencium aroma masakan yang sedang dimasak oleh wanita yang menyayangi dan disayanginya, betapa bahagianya. Dan dewasa ini, jika ada aroma yang tidak sedap ataupun beracun, sudah ada masker untuk penawar baunya, sungguh, hidung adalah indera yang sering membuatku untuk merasa bersyukur setiap harinya.

Yang ketiga, Lidah, indera pengecap, lagi-lagi melengkapi dua indera sebelumnya dalam hal yang sama, setelah melihat seseorang yang kita sayangi sedang memasak, kita telah cium aroma masakanya, kita tidak sabar untuk mengicip hidangan tersebut. Rasa, tidak akan terhitung ada berapa rasa di dunia, betapa bahagianya aku bisa mencoba segala rasa, manisnya buah yang baru dipetik, nikmatnya pahit kopi, bahkan saat aku tak sengaja menelan air laut, aku tetap dibuat bahagia, entah mengapa, aku merasa nyaman dengan laut, asin nya air laut membuatku ingat akan nikmatnya berada di kedalaman laut, begitu menyatunya aku dengan alam semesta, aku ingat untuk tenang, dan aku tau bahwa semua akan baik-baik saja.

Yang keempat, Telinga, mendengar, ingat bahwa burung-burung tak henti bernyanyi. Kebetulan aku tinggal di daerah pegunungan, jarang sekali aku dibangunkan oleh weker, hampir setiap pagi aku bangun secara alamiah, biasanya pukul 6-8 pagi, suara kumbang pinus yang selalu membangunkan, dan entah, selalu membuatku tersenyum setiap ku bangun dari lelapku. Lalu, musik, siapa dari kita semua yang tidak mendengarkan musik? tidak ada. Akan banyak sekali kita temukan orang-orang yang menggunakan headset, dimana-mana. Indera ini sangatlah candu, jika kita sedih, kita ingin mendengar musik agar kita tenang, jika kita bahagia, kita ingin musik melengkapi kebahagiaan itu, dan akhirnya membawa kita untuk bersenandung, bersiul, dan bernyanyi. Ah, tak terbayang betapa bahagia kita dibuatnya.

Yang kelima, Kulit, indera peraba, kita bisa merasakan sakit agar kita ingat rasanya tidak sakit, dan kita akan berusaha bertahan untuk sehat. Tubuh kita mempunyai candu untuk menerima rangsangan, untuk mengecek temperatur, bahkan untuk hanya sekedar ingin tahu. Saat kita kotor dan udara diluar sangat dingin, kita menginginkan untuk berendam di air panas, saat kita kegerahan, kita ingin dibasahi air yang segar. Saat ada sesuatu yang terlihat kenyal, kita penasaran untuk menyentuhnya, saat mata kita melihat bulu kucing anggora, kita sangat ingin mengelusnya, bahkan terkadang saat aku menggunakan alas kaki dan menginjak rerumputan, aku penasaran agar telapak kaki ini dapat bersentuhan langsung dengan rerumputan.

Yang terakhir bukan termasuk dalam panca indera, tidak pernah kita merasa mempelajarinya, karena inilah yang kita pakai untuk kita mempelajari apa yang kita dapatkan dari segala indera kita. Otak. Digunakan untuk berfikir bahkan bermimpi. Tempat dimulainya segala komando untuk semua indera, dan tempat bermuaranya rasa dari apa yang kita rasakan. Kita yang mengendalikan, terkadang dari terlalu banyak melihat, terlalu banyak mencium, terlalu banyak merasa, terlalu banyak mendengar, dan terlalu banyak meraba, akan membuat kita banyak berfikir, itu memang sudah jadi konsekuensinya. Sesungguhnya segala indera ada untuk memandu kita untuk bahagia, tetapi terkadang segala indera memandu kita ke arah yang negatif, dan sesungguhnya itu kembali kepada otak kita, karena kita yang mengendalikan, dan sedikit solusinya adalah..

What i'm trying to say is, bersyukur kalo kita memang mendapatkan lima indera tersebut secara sempurna, hidup ini sudah indah tanpa perlu kita harus mencoba, semesta ini ada bukan dengan sendirinya, semua ini ada untuk kita nikmati, gunakan dengan berhati-hati, jangan pernah puas melihat hal yang indah, cari yang lebih indah, dan simpan yang paling kalian suka. Nikmati aroma yang dihasilkan alam semesta, halangi orang yang berusaha merusaknya, lindungi sumber aroma yang kita suka, dan juga pembuatnya. Rasakan segala cita rasa yang ada di dunia, jangan takut rasanya pahit, pahit pasti juga bisa nikmat, jangan berhenti mencari segala rasa yang ada di dunia. Dengar senandung yang diciptakan semesta, jangan mudah percaya suara dari yang lainya. Raba segala rasa yang ada, jangan pernah bosan untuk merasakanya.

Semoga kita semua ingat, bersyukur, bersyukur, dan bersyukur, dan ingat bahwa hidup ini cuma sekali, kita tak pernah tau akankan indera kita akan kehilangan fungsinya suatu saat nanti, atau kapankah kita akan mati dan tidak akan pernah merasa lagi, ingat lagi, hidup ini sudah indah tanpa perlu kita harus mencoba, tolong nikmati ini sebaik-baiknya, aku berharap tulisan ini menjadi pengingat dan membuat kita berbuat lebih baik dengan segala indera yang kita punya, dan jangan biarkan pikiran kita sendiri untuk memutuskan dan berbuat sesuatu yang bodoh dengan indera yang kita punya. Bersyukurlah jika kalian masih merasakan kelimanya dengan sempurna. Dan jika suatu saat kalian mengetahui rasanya jika indera kalian tidak sempurna, percayalah, bahwa tidak perlu sempurna untuk bahagia.

3/05/2012

Selama-lamanya Senja

Sore di taman, tempat yang indah, sore yang indah, aku memutuskan untuk duduk sejenak ditengah perjalananku yang masih panjang. Kulihat ada ibu yang membawa anak balitanya menikmati sore, ada nenek yang sedang tersenyum menikmati sentuhan cahaya sore di kulitnya, sepasang sejoli yang sedang bercanda dengan seekor anjing kecil, dan kulihat seorang gadis yang terdiam, tidak terlihat senang, merenung.. duduk sendiri di kursi yang disediakan untuk tiga orang.. jauh di ujung taman.

Gadis ini layaknya seperti sebuah mutiara, yang keindahan cahayanya tertutup oleh rindangnya pohon. Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada gadis ini, atau mungkin hanya belum mengerti. Dia tidak terlihat sedang kehilangan sesuatu, tidak terlihat seperti sedang kehilangan orang yang ia cintai pula. Sore ini masih sangat panjang, aku memutuskan berjalan, ke kursi ujung taman, tepat dibawah pohon, dan tepat disampingnya aku duduk. Dia menoleh ke arahku sejenak, mungkin bingung dengan apa yang kulakukan disampingnya.

Aku diam untuk sejenak, sambil mencari titik-titik kecil sinar matahari yang tertutup oleh rindangnya pohon, aku melihat ke atas pohon yang tertanam tepat di belakang kursi tempat kami duduk.. dan akhirnya kudengar gadis ini mengela panjang nafasnya..


Akupun bertanya, “Kamu butuh sesuatu?”

Ia menjawab, “Aku lupa rasanya bahagia”

Dan aku membalas, “Kamu hanya lupa untuk membandingnya berapa banyak kebahagiaan yang kau punya, dan berapa banyak masalah yang kamu sedang hadapi”

Lalu ia menoleh dengan muka setengah kebingungan..

Lalu aku meminta izin untuk memegang tanganya, ia mengangguk, dan aku ajak ia berdiri.

“Ayo kita cari kebahagiaan, aku janji, ga akan jauh dari sini” kataku.

Ia berdiri, menunduk, dan ikut berjalan.

Aku masih menggenggam tanganya.. setelah tidak jauh kaki-kaki kami melangkah, aku bertanya,

“Apakah sudah terasa kebahagiaanya?”

Ia berkata, “Belum, kamu?”

Aku menjawab, “Aku selalu merasakanya, bahkan dari detik pertama aku menyapa”


Ia hanya terdiam, dan kami terus berjalan, sore ini sangat nyaman bagiku, dan belum terasa nyamanya untuk gadis ini. Sore ini masih sangat jauh dari senja, birunya langit memberikan tanda padaku bahwa aku tidak boleh pulang hingga gadis ini menemukan kebahagiaanya.

Lalu kamipun sampai ditengah taman, tepat didepan air mancur, kami duduk sebentar di pinggir air mancur.


Aku kembali bertanya, “Apakah kamu sudah merasakanya sekarang?”

“Entahlah, sepertinya belum, atau mungkin sepertinya aku lupa bagaimana cara mendapatkanya” Jawabnya.


Aku hanya tersenyum, tanpa tau apa yang sedang ia alami.

Lalu aku kembali berdiri dan menggenggam tangan kecilnya, aku ajak dia untuk lanjut berjalan di taman.

Kami berjalan, diatas jalur aspal yang sangat terasa hangatnya karena sinar matahari..

Kami terus berjalan..

Lalu aku mengajaknya duduk, tepat disamping nenek yang sedang memejamkan matanya sambil tersenyum merasakan matahari sore.


Dan aku memberikan bisikan kecil, “Kamu lihat nenek itu? Kamu merasakanya sekarang?”

Lalu gadis ini mengencangkan peganganya pada tanganku sambil bertanya, “Apakah nenek ini baik baik saja?”

Aku tersenyum, “Dia lebih baik dari sekedar baik baik saja”


Lalu aku mengajaknya berdiri lagi dan kamipun lanjut berjalan..

Lalu kami berjalan disamping seorang ibu yang sedang membawa anak balitanya yang amat menggemaskan, berjalan sore dengan kereta dorong.. Setelah lama kita berjalan disamping kereta dorong itu, aku tersenyum sambil menatap anak laki-laki yang sedang menikmati cahaya matahari sore di dalam kereta dorongnya, anak itu terlihat sangat gembira. sama sepertiku, sepertinya waktu sore merupakan waktu favoritnya.

Lalu untuk pertama kalinya, aku melihat gadis ini tersenyum,


Dan aku pun tersenyum dan bertanya, “Hei, kamu merasakanya?”

Ia membalas, “Anak ini lucu sekali, sepertinya ia sangat bahagia”

Dan aku tersenyum dan berhenti berjalan.

Lalu kami duduk, tepat bersebrangan dengan kursi yang sedang diduduki pasangan pria wanita yang sedang bercanda dengan anjingnya.

Kami berdua menatap pasangan tersebut,

Lalu aku berkata, “Ada yang ingin kau bilang?”

Lalu ia menghela nafasnya dan berkata, “Aku iri dengan kebahagiaan yang mereka punya..”

Aku tak menjawab, aku segera menggengam kembali tanganya dan berdiri.

Setelah ia berdiri, kami lanjut berjalan, dan akhirnya aku berhenti, tepat didepan kursi tempat pertama kami bertemu.

Aku bertanya, “Apakah kamu bahagia?”

Ia membalas, “Aku tidak tahu, sepertinya aku bahagia, tapi tidak.. atau sepertinya tidak bahagia, tapi aku bahagia.. aku tidak tahu pasti”

Lalu aku mengambil kamera instan berukuran mini yang ada di kantongku dan berkata, “Boleh aku foto kamu?”


Ia mengangguk, lalu duduk tepat di tempat pertama aku melihatnya ditaman ini. Ia memberikan senyum kecilnya untuk kameraku, lalu kamera instanku mengeluarkan hasilnya, dan aku mengantongi hasil fotonya di saku kemeja biru mudaku, lalu aku kembali duduk disampingnya.


Aku berkata, “Semestinya kamu jadi wanita yang paling berbahagia di dunia ini”

Gadis ini menoleh ke arahku, dan aku lanjut bertutur “Kamu punya senyum terbaik yang pernah aku lihat semenjak menit kedua hidupku, maaf, senyum menit pertama diberikan oleh ibuku. Tapi sayang, aku cuma dapat senyum kecil” Sambil aku tersenyum

Ia pun ikut tersenyum, Ia berkata, “Terima kasih”

Lalu ia berkata, “Aku tidak tau namamu, siapa namamu?”


Aku tidak menjawab, karena akupun bingung, sebenarnya aku ingin berkenalan, atau ingin membuat gadis ini ingat akan rasanya bahagia.

Lalu aku berkata, “Coba buka matamu lebih lebar, lihat apa yang tejadi di taman ini secara keseluruhan, dengan cara yang berbeda”

Ia melanjutkan, “Lalu, apa yang harus aku lakukan?”

Aku pun membuka mataku lebih lebar, melakukan apa yang aku suruh lakukan kepada gadis ini dan aku berkata, “Apakah kamu mau tahu apa yang aku rasakan?”

Ia jawab, “Ya.. apa?”

Kujawab, “Aku merasa sangat beruntung, tuhan memberikan sore ini, aku bisa merasakan indahnya matahari, bisa melihat nenek yang sedang mensyukuri hidupnya, melihat ibu yang menikmati hidupnya, bahkan anak balitapun merasakanya, terlalu banyak keindahan disore ini, dan akan terlalu banyak ucapan terima kasih yang akan kusampaikan kepada tuhan. Kesempatan ini, aku yakin, hanya akan terjadi satu kali, kita tidak akan merasakan hal sama persis dengan apa yang baru saja kita lewati. aku bersyukur pula dapat bertemu denganmu, aku senang, aku tahu tuhan menakdirkan kamu untuk duduk di kursi ini, di sore ini, bukan hanya untuk duduk termenung, aku tahu bahwa tuhan ingin aku memberikan kebahagiaan yang aku rasakan, dan tuhan ingin kamu ingat lagi apa rasanya bahagia. oleh karena itu kita dipertemukan di kursi ini sekarang.

Aku percaya, apapun yang terjadi pada hidupku, pasti ada artinya. siapapun yang aku temui di hidupku, pasti membawa maksud yang dititipkan tuhan. tuhan menolong kita tanpa berbicara, dengan cara yang kita belum tentu sadari. jadi aku hanya meminta, tanpa menunggu iya mengatakan jawabanya. aku hanya jalani hari sambil menunggu jawaban tersembunyi di balik apa yang terjadi di sekitarku sendiri.

Kamu gadis yang cantik, aku tahu kamu gadis yang baik, tuhan akan memberikan yang terbaik pada ciptaanya yang baik. tuhan akan melindungi ciptaanya yang baik dengan orang orang disekitarnya yang baik pula, dengan cara terbaik yang ia punya”

Aku merasakan tatapan dan senyuman gadis ini sepanjang aku berpidato singkat,

Dan ia berkata, “Aku merasa bahagia”

Aku tersenyum, ia pun tersenyum.

Lalu aku meminta izin untuk mengabil fotonya sekali lagi, kali ini ia tersenyum lebar sekali, aku merasa seperti orang yang paling bahagia di bumi ini, dan aku rasa ia merasakan hal yang sama. Dan kamera instanku kembali memberikan hasilnya, aku masukan hasilnya kedalam kantong kemejaku, dan aku mengeluarkan foto pertama gadis yang masih tersenyum kecil.

Lalu aku berkata, “Aku ingin kamu menyimpan foto senyum kecilmu ini, dan aku ingin kamu membawanya kemanapun kamu pergi, aku ingin foto ini menjadi pengingat agar jika kamu merasa jauh dari bahagia, kamu akan ingat bagaimana cara untuk kembali berjalan ke arah bahagia.”

Ia tersenyum dan mengucap, “Terima kasih, aku tidak akan melupakan sore ini” Dan setelah itu, sebuah sentuhan dari bibir kecil berwarna merah muda mendarat di pipi kanan ku.

Aku tersenyum, berkata, “Terima kasih, aku juga tidak akan melupakan sore ini”

Lalu aku berjalan lagi, melanjutkan perjalanan panjangku yang tak ber arah, dan ia pun berjalan, mungkin kembali ke rumahnya, aku pun tidak tahu. sore ini indah, terima kasih tuhan.

2/10/2012

Semakin Kentara, Semakin Gelita

Terlalu tinggi untuk melompat,
pijakanku di dasar bumi amatlah kasar,
berikan aku sedikit ruang,
gravitasi.

Hampir mustahil melebar di jalan satu tapak,
tapi mereka bilang aku masih punya mata,
punca terhubung oleh tali halus dengan kalbu,
geraknya gemulai kearah otak.

Hingga akhirnya titah dimengerti,
agar langkah ini bergerak,
…..berjalan
diiringi nyanyian sabda alam.

Milyaran persimpangan kulihat,
banyak arah kudengar,
satu tujuan ku yakin,
satu cara ku rasa.

Harmonisasi, harmoni, harmonis
tarian jari jemari bertanda suka cita

Oh..
Senyumu manis sekali
Senyumu manis sekali
Senyumu manis sekali

Aku dapat menyaksikan peperangan bintang,
direfleksikan laut malam,
naim sekali kau buana,
karena pada akhirnya..
aku merasa..
aku telah terpisah jarak yang maha-jauh dengan igauan.

12/31/2011

Berlalu dan Datang

Banyak yang udah dilewatin, walaupun masih banyak yang belum bisa gue mengerti. Membuka mata lebih besar, melihat lebih dalam, mencoba melebar, menjadi petualang, berjalan lebih jauh, menjadi lebih dekat, berusaha positif, tetap bertahan positif.

Yang sudah terjadi biarkanlah itu terjadi, apapun yang akan terjadi biarkanlah terjadi.

Gue bahagia dengan gue yang hari ini, gaada yang perlu disesalin dari apa yang terjadi tahun ini, karena apapun yang terjadi kemarin, itu yang ngebawa gue untuk berdiri hari ini. Semuanya hal itu terjadi pasti ada alasanya. Eh, barusan ada kupu-kupu muterin badan gue terus hinggap di dengkul. Semoga jadi pertanda baik buat tahun depan, hinggapnya ga terlalu lama, mungkin kebauan karena gue belum mandi pagi.

Satu introspeksi tahun ini, terlalu banyak kesempatan yang dilewatin.. Tidurnya terlalu panjang, terlalu lama bersembunyi dari resiko hidup yang besar, gapernah nyoba untuk bermain di pinggir jurang. Harus ada reminder bahwa hidup cuma sekali, kadang kalo mengingat hidup itu cuma sekali dan banyaknya hal yang bisa dilakuin, malah jadi males untuk bergerak, padahal mestinya lakuin sebanyak mungkin yang gue bisa. Gue sadar kemarin gue terlalu banyak bermimpi indah, tahun depan harus banyak usaha untuk bikin mimpinya jadi kenyataan.

Kadang udah ngerasa pinter, entah ngerasa doang atau emang udah pinter, tapi belum ada gunanya buat orang lain. Udah ngerasa bahagia, tapi masih suka lupa untuk bahagiain orang lain. Mampu, tapi belum bisa membantu yang belum mampu.

Baik buat kita, belum tentu baik buat orang lain. Bahagia kita, belum tentu jadi bahagia untuk orang lain. Kalo inget kalimat itu, langsung terbesit di otak solusi untuk membuat semuanya merasa baik dan bahagia, udah tau kalo ada caranya, tau caranya, tapi gabisa ngejelasinya, belum ada nama untuk caranya, semoga ga jadi males untuk ngelakuinya.

Banyak banget mimpi yang akan diwujudkan tahun depan, gaada keinginan yang muluk. Sama seperti berjudi, namanya bukan berjudi kalo kita yakin kita pasti menang. Gue yakin gue bisa wujudin, jadi itu ga muluk, karena gue tau gue bisa.

Harus perbanyak menulis, banyak membaca, kurangin mengeluh, banyak berusaha.

2012, gue cuma ingin menjadi lebih baik, baik, baik, dan menjadi lebih baik. Hidup lebih bahagia, bahagia untuk semuanya. Menjadi mampu, dan berguna untuk semuanya. Tanpa bermaksud meminta imbalanya, tapi gue bakal berusaha sampai gue bisa menggapai surga dari dunia.

Sarapan di suatu kafe manis kota paris bersama seorang perempuan dengan pakaian bermotif bunga, duduk menghabiskan malam di bar kota berlin bersama sahabat-sahabat, mengunjungi saudara-saudara di kota vienna, menginjakan kaki di kota rio de janeiro untuk mewujudkan semua harapan, mencari satu dari banyak jawaban ditengah kota mekkah, menonton konser band favorit di singapura, mencoba jajanan pinggir jalan kota tokyo sambil terpana melihat keindahan bunga sakura, terpuaskan atas segala keindahan pulau bali, bermalam di pinggir pantai, mencium aroma bunga edelweiss, mendengarkan musik sambil berenang indah bersama ikan dan terumbu karang, dan selalu berbahagia disekitar orang yang kita rasa pantas untuk ada disekitar kita. Terima kasih dari hati terdalam untuk semua orang yang detik ini berada disekitar.

Tidak sampai setengah hari lagi kau datang, aku benar-benar tidak sabar. Maaf jika sambutanku kurang meriah, tapi aku tau kau akan pastikan hatiku akan kau jaga untuk tetap bahagia. Selamat datang 2012, angka yang indah untuk mewujudkan mimpi yang sudah siap berjalan dijalurnya untuk menjadi kenyataan. Terima kasih 2011, terima kasih banyak. Maaf masih banyak kelelahan tanpa alasan yang kuhabiskan, banyak janji yang aku tunda untuk kuberikan. Kita berpisah sekarang, terima kasih sudah singgah beberapa ratus malam. Selamat tinggal 2011, tahun dimana aku tau bahwa aku sudah mempersiapkan diriku dijalan yang benar.

12/29/2011

Bagaimana Jika Langsung Konklusi?

Lukaku sudah hampir sembuh, iya, lumayan, usahamu boleh juga
Aku masih ingat hari pertama kakiku dapat kembali berjalan
Aku bahkan ingat hari pertama saat aku masuk kedalam jebakanmu yang menawan
Sekarang aku sedang menunggu waktu hingga aku pulih dan kuat untuk lari perlahan

Ah, tak apa kok, tidak perlu meminta maaf, aku baik-baik saja
Kamu juga tau kalo aku akan baik-baik saja, racunmu tidak mematikan
Lagipula aku lebih suka kamu diam daripada meminta maaf dengan muka tanpa makna

Aku benci janji, karena itu akan aku ucap sekali kepadamu
Bahwa kamu tidak akan pernah mendengar bahwa aku sudah kuat berlari
Aku sudah jauh, melesat cepat, hingga sinyal ponselpun bingung untuk menggapaiku
Bukankah kau yang selalu membuatku percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin?

Ya berlari saja, aku pun belum tau mau ke arah mana, jangan tanya pada tuhan
Kali ini kamu tidak bisa mengetahui arahku, matamu sudah tidak dihatiku
karena aku pun tidak tau arah yang ku tuju, arah mata angin kan masih ada delapan
Jangan coba-coba lagi untuk jadi yang kesembilan

Matahari tetap ada saat hari hujan, bayanganku masih ada saat hari gelap
Aku netral, embun di tenggorokanku akan segera hilang saat matahari datang
Hari ini sang bahagia mendeklarasikan bahwa ia membelah diri menjadi dua
Tidak ada lagi kita.

12/23/2011

A Little Glimpse Of Heaven

Berawal dari titik kecil yang tidak lebih besar dibandingkan matahari dari kejauhan, jatuh ke coklatnya tanah, yakin bahwa akan menjadi indah, sadar bahwa tidak akan ada kesempurnaan yang terjadi secara instan, sabar berkembang, sekedar coklat, sekedar batang, sekedar hijau, setinggi trotoar, tanpa hambatan, menjalar bebas, semakin hijau, bertambah rindang, mulai meneduhi satu orang, mulai dicintai, mulai sadar apa yang akan terjadi, melindungi dari air hujan, tempat berdiri bersama bayangan, menjadi apa yang tak terduga, membentuk kuncup, menunggu lagi dengan sabar, mekar, dan mekar menjadi apa yang diharapkan, cantik, membuat orang terkesima, anggun, membuat orang takbisa berkata-kata, namamu bunga, ranggi, kau adiwarna, hingga akhirnya aku tau bahwa kau memang sempurna, dan orang berkata bahwa kaulah cara bumi menunjukan senyumanya.

12/10/2011

Que Sera, Sera

Ruh nya sudah ditiup, sekarang kita yang mengendalikan
Diafragma berkontraksi, tampak titik putih diujung terowongan
Aku biarkan takdir menunggu, ratusan hari hidup tanpa kalbu
Cepat datang, langitnya masih biru, awan nya merah jambu

Ah, bagaimana bisa aku rindu tanpa tahu wujudmu
Aku tau aku tau, aku tau kamu tau, kamu tau kamu tau
Aku suka senyumu, aku cinta kita, kamu cinta ambigu
Ekspresimu hutan, senyumanmu terumbu karang

Dipinggir danau, menikmati refleksi senyum kita berdua
Sampai telunjuk kecilmu menyentuh permukaan air yang tenang
Wajahmu tetap tenang, aku tau hatimu tergoncang
Kita lupa akan refleksinya, dan membiarkan semuanya berjalan sendirinya

Dan diafragmanya telah kembali ke posisi semula

12/02/2011

Harinya Belum Datang, Jangan Dulu Pergi

Hari ini kamu masih rahasia, seperti sangkakala
Saat rembulan datang, lagi-lagi senyum itu menemani di dalam mimpi
Piano nya terus berdenting, hingga kamu selesai menari sebagai harmonisasi
Kucoba pejamkan mata, warna mu merah jambu
Tutu mu melambai, tau aku akan datang
Suara orkestra yang baru ku dengar, simfoni nya bertajuk cinta
Sejenak aku pergi, dengan janji akan kembali ke pertunjukan ini
Hingga suatu hari kamu akan merekah, setara dengan indahnya bunga
Hai, kamu akan terus mendominasi hati.